Oleh: Abd. Goffar
Mahasiswa Magister UIN Sunan Ampel Surabaya

OPINI, forumnusantara.com/ – Tanah di Aceh, Sumut dan Sumbar sedang berbicara dengan bahasa yang tak pernah kita inginkan, bahasa longsor, banjir bandang, dan retakan yang mengoyak perkampungan. Alam di barat nusantara menangis, dan setiap tetes air mata itu seakan memantul jauh hingga ke pulau Madura.

Seakan mengirimkan pesan halus namun tegas bahwa bencana bukan sekadar peristiwa, tetapi konsekuensi dari relasi kita yang tak seimbang dengan bumi.

Madura, yang tampak tenang di peta, sejatinya menyimpan degup yang sama. Bukit-bukit yang dulu teduh kini terbelah oleh ekskavator, tanah yang dulu mengikat akar pepohonan kini menunggu giliran untuk diekspor menjadi material bangunan.

Galian C di sebagian daerah di Madura bukan hanya meratakan bukit, tetapi juga meratakan batas antara kebutuhan dan keserakahan.

Apa yang terjadi di Aceh Sumut dan Sumbar hari ini merupakan cermin besar tentang rapuhnya keseimbangan ekologis. Curah hujan ekstrem hanya menjadi pemantik, akar persoalannya adalah rusaknya daya dukung lahan.

Di Madura, kondisi ini perlahan meniru pola yang sama, bukit yang dikeruk di sebagian daerah di Madura, daerah resapan yang hilang, aliran air hujan yang tak lagi mengenal jalan pulang selain langsung menggerus permukiman rendah. Jika kita terus berjalan di jalur ini, maka tangisan tanah di barat bisa menjadi gema yang terdengar di timur.

Apapun itu, Madura masih punya pilihan, apa itu.!! Pemerintah daerah di Madura perlu memperketat regulasi galian C yang ada di berbagai daerah di Madura dan menegakkan moratorium pada wilayah yang telah kritis. Penataan ruang harus menjadi kitab suci pembangunan, bukan formalitas administratif.

Tanah di Aceh, Sumut dan Sumbar telah menunjukkan apa yang terjadi ketika keseimbangan dilanggar. Madura harus belajar, sebab alam selalu memberi tanda sebelum memberi hukuman.

Sebelum Madura ikut menangis, marilah kita belajar dari air mata yang jatuh di barat.