NGAWI, forumnusantara.com/ – Di tengah terik matahari yang menyengat, Arya Wahyu Wibowo (26) tetap bersemangat menyemprot tanaman padi miliknya di Dusun Klumpit, Desa Kresikan, Kecamatan Geneng. Wajah dan tangannya yang menghitam tak menjadi persoalan bagi pemuda ini.
Sebagai anak muda, Arya mengaku tak pernah malu menyandang status sebagai petani. Baginya, bertani bukan pekerjaan kuno, melainkan profesi modern yang menjanjikan jika ditekuni dengan serius.
“Petani ini bukan pekerjaan yang kuno. Kalau sudah terjun dan paham, justru enak dan seru,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Arya memulai perjalanan sebagai petani sejak 2021 setelah pandemi memaksanya berhenti bekerja sebagai montir di Kota Solo. Kembali ke kampung halaman, ia mencoba mengikuti jejak sang ayah dengan bertani, meski berbekal ilmu yang terbatas.
Namun, kemajuan teknologi menjadi titik baliknya. Ia memanfaatkan media sosial untuk belajar teknik pertanian modern, mulai dari pengolahan lahan hingga perawatan tanaman.
“Awalnya sulit karena minim ilmu. Tapi saya belajar dari media sosial, dan sekarang alhamdulillah bisa panen tiga kali setahun,” katanya.
Dari awalnya menggarap satu hektar tanah kas desa, kini Arya telah memperluas lahannya menjadi dua hektar dengan menyewa sawah milik petani lain. Ia menyebut fenomena penyewaan lahan cukup marak karena banyak anak petani enggan melanjutkan profesi orang tua mereka.
Dalam satu kali panen, Arya mampu menghasilkan sekitar 12 ton gabah kering dari dua hektar lahan. Dengan tiga kali panen dalam setahun, total produksinya mencapai 36 ton. Dengan harga gabah yang kini menyentuh Rp7.000 per kilogram, omzet kotor yang diraih bisa mencapai Rp256 juta per tahun.
“Kalau soal untung bisa sekitar setengah dari pendapatan kotor,” jelasnya.
Untuk memaksimalkan keuntungan, Arya tidak menjual hasil panennya ke tengkulak, melainkan langsung ke pemilik penggilingan padi. Ia juga menekan biaya produksi dengan membajak lahan sendiri serta memanfaatkan pupuk subsidi.
Meski demikian, perjalanan Arya tak selalu mulus. Ia pernah mengalami gagal panen akibat serangan hama wereng pada 2023. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkembang.
Arya juga menyoroti masih banyak petani yang belum menguasai pemasaran hasil panen, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak maksimal. Menurutnya, petani modern harus mampu menggabungkan produksi dan strategi pemasaran, termasuk melalui media sosial.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Supardi, mengakui bahwa mayoritas petani di wilayahnya masih didominasi kalangan usia tua. Meski begitu, tren petani milenial mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Regenerasi masih kurang, tapi sekarang mulai banyak anak muda yang tertarik ke pertanian, terutama hortikultura,” ujarnya.
Supardi menuturkan, berdasarkan data sekitar 850 petani milenial telah terdaftar dan mengembangkan usaha di sektor pertanian di Ngawi. Pemerintah daerah pun terus mendorong pertanian modern melalui bantuan alat mekanisasi serta program pertanian ramah lingkungan berkelanjutan.
Kisah Arya menjadi bukti bahwa pertanian tak lagi identik dengan pekerjaan tradisional. Dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi, generasi muda mampu mengubah sektor ini menjadi ladang usaha yang menjanjikan.
