NGAWI, forumnusantara.com/ – Setelah lebih dari 40 hari sejak kepergian bayinya, Indah Nur Fitria bersama pihak keluarga akhirnya dapat bernafas lega. Warga Desa Beran Kabupaten Ngawi ini mengaku memperoleh penjelasan resmi mengenai penyebab kematian bayinya yang sempat dirawat di RSUD dr Soeroto Ngawi oleh pihak rumah sakit. Jumat (5/6/2026) lalu.

Kendati sudah mendapat klarifikasi penyebab kematian bayinya, ia menyayangkan proses pencarian jawaban harus menunggu lebih dari sebulan dan ramai diberitakan media.

“Saya sebenarnya hanya ingin mendapatkan kejelasan. Yang saya sesalkan, kenapa harus ramai di media dulu untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap,” ujarnya.

Indah mengaku masih berusaha menerima kenyataan tersebut. Ia menuturkan selama masa kehamilan tidak merasakan gejala tertentu dan hasil pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya juga menunjukkan kondisi yang baik.

” Tadi penyebabnya katanya infeksi, tapi selama hamil saya gak merasa gejala apa pun. Hasil pemeriksaan di puskesmas Ngawi juga baik, infeksi saluran kemih pada ibu tidak terdeteksi. Bayi lahir sehat, saya juga sehat. Memang sulit menerima kenyataan ini, tetapi setidaknya sekarang saya mendapat penjelasan,” ujarnya.

Selain persoalan penyebab kematian bayinya, Indah juga berharap pihak management rumah sakit dapat melakukan pembenahan terhadap budaya kerja internal. Ia mengaku sempat melihat adanya praktik senioritas, tindakan mencubit sesama rekan kerja, hingga perilaku yang mengarah pada perundungan.

“Harapan saya ke depan tidak ada lagi body shaming maupun perundungan. Komunikasi harus lebih terbuka. Saya hanya butuh jawaban, kalau memang masih ada budaya senioritas atau tindakan yang tidak pantas, semoga bisa diperbaiki,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, dr. Siswanto Basuki yang menangani bayi tersebut, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, penyebab kematian bayi bukan karena tersedak sebagaimana sempat dicurigai sebelumnya.

“Hasil rontgen menunjukkan kondisi paru-paru baik. Dari hasil laboratorium ditemukan tanda-tanda infeksi yang positif. Kesimpulannya, bayi mengalami infeksi sistemik berat yang menyebabkan gagal napas lalu meninggal,” jelas Siswanto.

Menurutnya, infeksi pada bayi baru lahir dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk dari ibu selama masa kehamilan maupun dari lingkungan sekitar setelah kelahiran.

“Biasanya jika gejala muncul dalam tiga hari pertama kehidupan, sumber infeksi berasal dari ibu sementara jika lebih dari tiga hari penyebab infeksi dari lingkungan. Kondisi tersebut dapat berkembang lebih cepat dan buruk,” paparnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Soeroto Ngawi, dr. Agus Priambodo, menyatakan bahwa pihak rumah sakit sebenarnya telah berupaya memberikan penjelasan kepada keluarga sejak awal melalui dokter yang bertugas dan kepala ruang perawatan.

“Dokter Yeni dan kepala ruangan sebenarnya sudah memberikan penjelasan. Namun keluarga menginginkan penjelasan langsung dari dokter yang merawat. Saat itu dr. Siswanto sedang mengikuti pelatihan dari kemenkes, sehingga baru bisa dilakukan pertemuan klarifikasi sekarang,” jelas Agus.

Menanggapi keluhan pasien terkait dugaan body shamming, ia menegaskan rumah sakit akan terus melakukan perbaikan dalam aspek pelayanan dan komunikasi kepada pasien maupun keluarga pasien.

“Kami jadikan ini sebagai bahan evaluasi agar pelayanan semakin prima, ramah, dan komunikatif. Pola komunikasi yang kurang baik marah marah itu sudah tidak sesuai jaman, ini bukan jaman belanda atau jaman feodal,” katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan pihak rumah sakit sudah melakukan penanganan medis sesuai prosedur dan standar operasional serta kaidah akademik kedokteran.

“Ini murni karena infeksi. Tim medis sudah memberikan terapi antibiotik mulai dari tingkat dasar hingga antibiotik spektrum tinggi. Pasien juga telah mendapatkan bantuan ventilator dan penanganan intensif lainnya. Semua upaya medis sudah dilakukan, tetapi kemampuan manusia tentu ada batasnya,” pungkasnya.