NGAWI, forumnusantara.com/ – Di tengah gencarnya imbauan pemerintah agar kegiatan perpisahan sekolah digelar sederhana dan tidak membebani orang tua, MI Muhammadiyah Bulung, Desa Kartoharjo, Kecamatan Ngawi, justru menjadi sorotan. Pasalnya, rencana akhirussanah siswa kelas VI akan digelar dengan agenda perjalanan ke Yogyakarta yang oleh sejumlah pihak dinilai menyerupai study tour.

Ironisnya, pengawas madrasah Sri Harmastuti mengaku belum pernah menerima pemberitahuan resmi terkait kegiatan yang melibatkan siswa, wali murid, dan belasan guru tersebut.

“Aturan sudah saya sampaikan sejak satu tahun lalu. Sesuai surat edaran, kegiatan akhirussanah harus dilaksanakan sesederhana mungkin. Kebetulan saya belum dikasih tahu dan sampai saat ini belum ada klarifikasi,” ujar Sri pengawas madrasah saat dikonfirmasi, Selasa (9/6/2026).

Pernyataan tersebut memunculkan tanda tanya. Sebab di satu sisi kegiatan tetap dipersiapkan, sementara di sisi lain pengawas yang bertugas melakukan pembinaan justru mengaku belum menerima laporan maupun penjelasan dari pihak madrasah.

Sekolah Berdalih Bukan Study Tour

Menanggapi sorotan tersebut, pihak sekolah membantah jika kegiatan itu merupakan study tour yang diselenggarakan madrasah. Menurut mereka, agenda tersebut murni merupakan kegiatan akhirussanah yang diprakarsai oleh wali murid.

“Jadi itu bukan tour, tapi kegiatan akhirussanah. Panitianya wali murid kelas VI. Tidak ada paksaan dan berita acaranya juga ada,” kata Humas MI Muhammadiyah Bulung, Rahmat Efendi.

Rahmat menjelaskan sekolah hanya berperan sebagai fasilitator karena mayoritas wali murid menginginkan adanya kegiatan bersama untuk menandai berakhirnya masa belajar siswa di tingkat madrasah ibtidaiyah.

“Akhirussanah itu untuk mengenang kegiatan anak-anak selama sekolah. Itu urusan wali murid, kami hanya memfasilitasi,” ujarnya.

Namun, ketika ditanya soal keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut, pihak sekolah mengakui ada sekitar 13 guru yang akan ikut mendampingi rombongan ke Yogyakarta.

Voting Orang Tua Jadi Dasar Keputusan

Pihak sekolah dan panitia menyebut keputusan berangkat ke Yogyakarta telah melalui musyawarah bersama wali murid. Bahkan, menurut mereka, keberatan yang muncul telah diselesaikan melalui mekanisme voting.

“Kalau ada yang tidak setuju, dibuatkan berita acara. Karena lebih dari 50 persen setuju, kegiatan tetap berjalan,” terang Rahmat.

Bendahara panitia akhirussanah, Martini, menegaskan bahwa seluruh program merupakan inisiatif wali murid dan bukan agenda sekolah.

“Kita ini main nabung. Program ini inisiatif sendiri dari wali murid,” katanya.

Martini mengungkapkan, semula kegiatan dirancang digelar di wilayah Ngawi. Namun setelah dilakukan perhitungan biaya, opsi tersebut dianggap kurang memungkinkan.

“Awalnya mau di Ngawi, tapi setelah dirembuk anggarannya tidak cukup. Akhirnya dicari yang paling murah. Sempat ingin ke Kemuning, lalu saat rembukan disarankan Bu Iin ke Jogja karena dinilai lebih murah dan simpel akhirnya kita iyakan,” ujarnya.

Menurut panitia, setiap peserta dikenakan biaya Rp450 ribu untuk satu siswa yang didampingi satu orang tua.

“Satu orang Rp450 ribu untuk anak dan ibunya. Guru juga kami ajak mendampingi, jumlahnya sekitar 13 orang,” jelas Martini.

Ia juga mengakui seluruh biaya pendampingan guru ditanggung dalam kegiatan tersebut.

“Guru tidak bayar. Jujur saja seperti itu. Kita gratiskan semuanya dengan tujuan Jogja,” katanya.

Paham Larangan, Tapi Kegiatan Tetap Jalan

Menariknya, pihak sekolah mengaku memahami adanya aturan dan imbauan pemerintah yang meminta sekolah tidak menggelar kegiatan yang berpotensi membebani wali murid.

Bahkan Rahmat mengaku mengetahui adanya sejumlah kasus di daerah lain yang berujung polemik akibat penyelenggaraan acara perpisahan di luar sekolah.

“Saya paham ada kejadian di Jawa Barat dan ada aturan bahwa sekolah tidak boleh mengadakan kegiatan yang memberatkan wali murid. Karena itu posisi kami hanya mengetahui kegiatan tersebut dan memfasilitasi,” ujarnya.

Kendati demikian, pihak sekolah memastikan agenda ke Yogyakarta tetap akan dilaksanakan.

“Tetap jalan. Kami juga ada pengawas dan Kasi Pendma. Tadi malam kami sudah diberikan arahan,” kata Rahmat.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya pengawas madrasah mengaku belum menerima informasi maupun klarifikasi terkait kegiatan tersebut.

Sementara itu, Kepala MI Muhammadiyah Bulung belum dapat memberikan keterangan langsung. Saat wartawan mendatangi sekolah, yang bersangkutan tidak berada di tempat meski sebelumnya telah dijadwalkan untuk bertemu. Konfirmasi akhirnya diwakili oleh pihak humas.

Hingga berita ini diturunkan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngawi belum memberikan penjelasan resmi mengenai status kegiatan tersebut, termasuk apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan ketentuan dan surat edaran yang berlaku terkait penyelenggaraan akhirussanah maupun kegiatan luar sekolah.